Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Baik

Ilustrasi anak yang melawan

Anak merupakan anugerah yang dititipkan oleh Allah SWT kepada setiap orang tua. Sebuah ungkapan mengatakan "anak merupakan cerminan dari orangtuanya". Ungkapan lain mengatakan bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Artinya adalah hampir keseluruhan anak, sifat dan karakternya menyerupai sifat dan karakter orang tuanya.

Di zaman yang serba kompleks seperti sekarang ini, tak jarang kita temukan anak-anak yang tumbuh besar menjadi seorang yang bermental pemberontak. Anak seperti ini mempunyai kecenderungan sifat yang keras, suka melawan, membantah atau membalikkan apa yang disampaikan atau diperintahkan orang tuanya.


Bagi orang tua manapun, memiliki anak seperti ini adalah sebuah ujian. Walaupun demikian, ini sejatinya merupakan bahan renungan dan introspeksi bagi orang tua, karena bagaimana pun setiap anak dilahirkan dalam kondisi “suci” dan “kosong”.  Perilaku anak saat ini merupakan hasil dari “pendidikan” dan “pembiasaan” yang diterapkan orang tuanya.

Menurut psikolog terkemuka dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, menghadapi tipe anak seperti ini, setiap orang tua disarankan untuk tidak mudah menyerah. Ayah dan Ibu perlu terus bersabar dalam membimbing dan membina anak-anak mereka.

“Menghadapi  anak yang suka melawan dan suka menjawab. Enggak boleh bilang “ah ya udah deh”.  Temukan akar penyebabnya!,” ujar Elly dalam sebuah acara talkshow beberapa waktu silam.

Elly menekankan pentingnya setiap ortu mengecek kembali sejauh mana kedekatan  dengan buah hatik mereka. “Apa kelengketan dengan anak baik? Cek apakah anak kita dilahirkan ditunggu-tunggu atau ‘yah, kok hamil’ Cek juga apakah ia dapat hak menyusui yg cukup,” tegas Elly.

Menurutnya, kebiasaan anak melawan atau mengomong balik hanya terjadi jika ortu tidak terjadi kelengketan dengan anak. “Kelengketan berdasarkan Al Qur’an didapatkan dari menyusui skin to skin, bukan dari botol.  Apa hidup kita tergesa-gesa, tidak punya waktu unttk bicara tenang, gampang meng“iya”kan saja apa yang anak ucapkan & lupa tindak lanjuti” paparnya.

Mengasuh anak secara ideal, lanjut Elly bukan seperti “sersan pelatih”, dimana anak hanya menurut saja apa yang ortu katakan dan jarang diajak berdiskusi.  Banyak ortu yang tidak sadar jika mereka jarang menyapa perasaan anak dan bicara hanya untuk memerintah, menyalahkan, meremehkan. Mereka juga tidak mengubah gaya berbicara meski usia anak berubah

“Para ortu tidak sadar otak anak sudah bersambungan sejak usia 2,5 th, mereka punya opini dan cara berpikir sendiri,” imbuhnya.

Ibu Elly memberikan beberapa kiat dalam menghadapi anak yang suka melawan :
  1. Buat aturan main di rumah. Segala sesuatunya yang ada di rumah dan yang akan dibawa keluar dari rumah harus dibuat aturannya dan berlaku bagi semua penghuni rumah. seperti: saat makan malam bersama tidak dibenarkan menyalakan/menonton TV
  2. Konsekuensi dan konsisten menjalankan aturan. Antara Ayah dan Bunda tidak boleh ada perbedaan dalam menerapkan aturan.
  3. Tentukan apa yang boleh dan pantas didiskusikan dan apa yang tidak
  4. Budayakan dialog dan musyawarah. Beri kesempatan untuk berargumen. Dasar ini dari usia 2,5 tahun
  5. Jika ada kondisi dimana anak berargumen, lihat dulu konteksnya. Jika bahayakan anak atau langgar aturan agama, kendali ada di tangan ortu. Namun jika tidak membahayakan, biarkan anak dengan pilihannya agar ia belajar konsekuensi atas pilihannya
  6. Temukan dahulu akar setiap permasalahannya, baru kemudian kita bahas bagaimana cara mengatasi masalah tersebut.
  7. Dampak jika anak terlalu dilembekin atau terlalu dikerasi sama saja. Anak merasa tidak dimengerti dan tidak bida mengekspresikan dirinya. Hal ini membahayakan, anak seperti komputer shutdown. Kita tidak bisa mengetahui jika ada hal terjadi dalam dirinya
  8. Jangan sikapi anak yang melawan atau balik melawan dengan teriak atau mengancam, lebih baik tarik nafas panjang dan diam. Hentikan pembicaraan, beri waktu masing-masing untuk sendiri. Release emosi dgn wudhu,  sholat, kemudian pikirkan “hmm.. kenapa ya nih anak?”
  9. Hal ini agar anak tidak semakin melawan. Ingat, anak bisa berdosa jika ia melawan kita. Tidak mau kan?
  10. Anak juga perlu tau anak tidak setara dengan orangtua. Sambung lagi pembicaraan setelah tenang
  11. Anak yang suka melawan bisa karena ia melihat temannya , sehingga ia ingin mencoba rasanya melawan
  12. Bisa juga karena ada masalah di luar rumah, maka baca bahasa tubuh dan tebak perasaannya. Kalau sdh reda,Jelaskan pd anak apa yg boleh..dan tidak, bilang kalau kamu marah atau capek atau lagi males ngomong, tapi jangan  dengan marah-marah, teriak, ngatain dll
  13. Jika anak melawan, dan kita tidak sengaja teriak dan marah (karena dulu diasuh dengan keras), ampuni dulu ortu kita, minta Allah ampunkan. Lalu, minta maaf pada anak apa yang telah kita perbuat padanya
  14. Keras untuk disiplin? Disiplin itu hanya akan efektif jika melibatkan perasaan anak dan betujuan untuk bentuk kontrol diri.
  15. Bagaimana ajarkan anak tentang konsekuensi namun tetap dgn menunjukkan perhatian?
  16. Saat diskusikan batasan dengan anak, jelaskan bahwa sikap melawan punya konsekuensi
  17. Tentukan dan sepakati konsekuensinya apa? Misalnya kehilangan previlege (tidak boleh main games, nonton tv?), tambah tugas dirumah, tidur lebih cepat?
  18. Konsisten. Tunjukkan kita serius dalam penerapannya supaya aturan punya wibawa
  19. Jadilah Model! Bagaimana kita bicara, begitu anak bicara. Konsisten jadi pribadi yang baik dulu terhadap keluarga dan orang sekitar
  20. Perhatikan lebih banyak hal postif yang ditunjukkan anak, hargai dan puji.  Misalnya “Mama senang deh kamu nunggu giliran ngomong.”
  21. Puji terlebih jika anak menyampaikan perasaannya melalui kata-kata
  22. Ingat : Selama pelaksanaan kesepakatan, mungkin anak akan tidak suka pada aturan tersebut, hal yang membuat aturan itu ada, atau orang yang buat aturan
  23. Berimbang antara penegakan aturan dan kasih sayang. Anak akan sadar ortu kenali saat dia sedang baik sehingga dia perlahan mengurangi kebiasannya melawan.


Semoga tips dan langkah-langkah di atas dapat memberikan referensi bagi ayah bunda dalam menyikapi anak-anak yang "membandel" atau "melawan" dengan orang tua.

Komentar