Menjadi Ayah Hebat Bagi Anak
Assalamualaikum Ayah Bunda, semoga Ayah Bunda selalu diberi berkah oleh Allah SWT untuk dapat mendidik anak-anak kita menjadi manusia berakhlakul karimah. Aamiin. Lansgung saja ya Ayah Bunda, nggak pakai mukaddimah panjang-panjang. Pada postingan kali ini Saya akan mengurai sedikit tips dan trik bagi seorang Ayah agar menjadi seorang Ayah yang hebat bagi anak-anaknya.
Kita semua pasti sudah menyadari bahwa seorang Ayah merupakan figur penting nomor 2 bagi seorang anak. Kenapa nomor2? Iya dong, yang nomor SATUnya kan Bunda. Kan ada ungkapan yang mengatakan "al ummu madrasatul 'ula". Ibu adalah pendidik terbaik nomor 1 bagi seorang anak. Sebab, seorang ibu memiliki intensitas waktu yang paling banyak bersama anak-anaknya ketimbang Ayah. Mulai dari bangun tidur sampai akan tidur kembali, Ibulah yang dominan waktunya bersama anak. Bahkan pada saat tidurpun Ibu yang selalu hadir ketika anaknya rewel minta "nenen".
Saat ini banyak keluarga di Indonesia yang kehilangan figur ayah. Ayah sudah berangkat kerja saat pagi buta, ketika si kecil masih tidur. Ketika ayah pulang malam hari, sering kali anak sudah tertidur. Minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan membuat anak mengalami beberapa masalah psikologis. Di antaranya, anak yang rendah harga dirinya, anak laki-laki yang cenderung feminin dan anak perempuan yang cenderung tomboy, anak yang lambat dalam mengambil keputusan, serta anak yang cenderung reaktif. Termasuk juga, maraknya generasi alay
Nah, oleh sebab itu seorang Ayah haruslah memanfaatkan waktu yang begitu singkat agar menjadi "quality time" bersama anaknya. Sebagian besar para Ayah menghabiskan waktunya untuk pekerjaan. Bahkan sampai dirumahpun terkadang Ayah masih mengurusi urusan pekerjaan.
Untuk bisa menjadi seorang ayah yang hebat, maka Ayah harus memaksimalkan waktu-waktunya bersama sang anak. Ada saat-saat tertentu yang mana si Ayah musti kudu harus ada untuk sang anak.
Saat-saat kapan saja itu? Berikut ini saya uraikan:
- Pada Waktu Pagi Hari. Ayah bisa memulai dengan membangunkan anak. Luangkan 5 menit untuk bermain atau mendengar cerita anak mengenai mimpinya.
- Siang Hari. Luangkan 5 menit saja untuk menelepon anak di siang hari. Mulailah dengan cerita ringan mengenai aktivitas ayah di kantor dan pancing anak untuk bercerita mengenai kegiatannya hari itu.
- Pada Malam Hari. Sediakan waktu untuk bermain serta mendengar cerita anak mengenai aktivitasnya seharian. Beri komentar dan arahkan anak secara positif. Malam hari merupakan waktu yang efektif untuk menanamkan budi pekerti dan sikap-sikap yang baik.
- Saat Liburan. Saat hari libur, ayah bisa secara total melakukan aktivitas bersama anak. Tidak harus pergi berlibur, bisa juga dengan mencuci mobil bersama, memancing, pergi ke toko buku. Aktivitas tersebut akan menciptakan ikatan yang kuat antara ayah dan anak.
- Saat Di Kendaraan. Saat mengantar anak ke sekolah atau ke tempat lain, terutama jika menggunakan mobil, tersedia kesempatan untuk ngobrol dengan buah hati. Selipkan nasihat, misalnya mengenai pentingnya berkendara dengan santun, menghormati hak orang lain, mengikuti aturan lalu lintas, dan lain-lain.
- Saat Anak Sedih. Saat anak mengalami kesedihan, ia membutuhkan tempat untuk curhat dan menyampaikan keresahan hatinya. Jika ayah mampu hadir dalam situasi ini, anak tidak akan melabuhkan kepercayaan pada orang yang salah. Karena pahlawan bagi anak adalah mereka yang ada di dekat mereka, menghibur, mendukung dan menguatkan ketika mereka sedih dan mengalami masalah.
- Saat Anak Meraih Prestasi. Luangkan waktu untuk hadir saat anak mengikuti lomba atau tampil di panggung. Kehadiran ayah dan ibu dalam momen itu merupakan bentuk pengakuan akan kemampuan anak. Tepuk tangan, foto, dan rekaman yang dibuat ayah atau ibu akan menjadi kenangan yang terus mereka bawa hingga besar nanti.
Antara peran Ayah dan Ibu haruslah seimbang. Minimnya keterlibatan ayah, membuat anak
cenderung penakut dan lambat mengambil keputusan. Sementara jika peran ibu yang
hilang dalam rumah tangga, anak cenderung mengedepankan logika, tapi tidak
memiliki kepekaan.

Komentar
Posting Komentar